# Diwarnai Atraksi Pencak Silat, IAI Persis Garut Gelar Seminar Nasional Dakwah dan Kebudayaan

GARUT —Institut Agama Islam (IAI) Persis Garut melalui Prodi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) dan Himpunan Mahasiswa (Prodi MPAI) nya menggelar Seminar Nasional Dakwah dan Kebudayaan bertajuk “Kebudayaan sebagai Panggung Identitas: Menyoal Titik Rawan antara Pelestarian Budaya dan Kemurnian Dakwah”, Rabu (9/9/2026), di Aula/Gedung Serbaguna IAI Persis Garut.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/054c54af-0f4a-4bda-9c5b-18b5fda51a4d.jpg align="center")

Seminar yang terbuka untuk umum tersebut menjadi ruang dialog akademik untuk membahas relasi antara kebudayaan, dakwah, kreativitas, serta upaya menjaga identitas dan nilai-nilai keislaman di tengah dinamika budaya masyarakat.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/99da9ef8-c077-4980-b0a7-c4325fbc5671.jpg align="center")

Kegiatan diawali dengan registrasi ulang peserta, dilanjutkan dengan sesi pembukaan yang diisi pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/da9d31fc-8566-40ac-b23b-ddbef8a0210c.jpg align="center")

Sesi sambutan diawali oleh Ketua Panitia, Zafar Sidiq, S.Pd., dilanjutkan sambutan dari MUI Kabupaten Garut, serta sambutan dan pembukaan resmi oleh Kaprodi MPAI IAI Persis Garut, Dr. Yusup Tajri, M.Pd.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/5a7c77d5-8331-421d-9f00-48f70dd6a953.jpg align="center")

Pada kesempatan ini juga menjadi momen dibuatnya program kerjasama antara IAI Persis Garut dan MUI Kabupaten Garut tentang Dakwah Budaya, sebagai bentuk sinergi strategis dalam merawat tradisi dan mengembangkan dakwah berbasis kebudayaan. Kerjasama tersebut secara simbolis dilakukan melalui penyerahan plakat oleh Rektor IAI Persis Garut: Dr. H. Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum kepada Ketua Umum MUI Kabupaten Garut: KH. Rd. Amin Muhyidin Maolani.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/3d0d3a92-feb1-4643-971f-f8a1430d7fcf.jpg align="center")

Suasana acara semakin semarak dengan penampilan pagelaran seni sebagai pertunjukan pembuka. Kesenian yang ditampilkan berupa Pencak Silat yang ditampilkan oleh perguruan Silat Gadjah Putih.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/8920e4ee-93e4-4210-a7a9-c059d70c0941.jpg align="center")

Sebelum memasuki sesi utama, dua perwakilan mahasiswa menyampaikan gagasan mereka melalui sesi speech, yaitu Halim Majid, S.Ag., Gr. serta Awan Setiawan, S.Pd.I. dengan materi bertajuk “Ketika Budaya Membentuk Kemanusiaan: Siapa Pembimbingnya?”.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/a4385c4e-d45f-41bc-9042-7ab8ec8ea451.jpg align="center")

Memasuki Sesi I pemaparan Keynote Speech dari Bupati Garut yang diwakili oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut. Sesi ini menyampaikan paparan mengenai “Kebudayaan sebagai Identitas dan Kekuatan Pembangunan Masyarakat Garut.”

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/1bf8e9a1-dae2-47e9-a9d0-8da5f0e7def6.jpg align="center")

Melangkah ke Sesi II yaitu Diskusi Panel yang dipandu oleh moderator sekaligus juga dosen Prodi Ilmu Hadis IAI Persis Garut: Firman Solihin, [M.Ag](http://M.Ag).

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/407751db-a988-4027-90aa-dc2c3e85d03f.jpg align="center")

Diskusi sesi utama ini menghadirkan tiga narasumber sekaligus dari latar belakang akademisi, praktisi, dan penulis.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/4a6c8156-04e6-4c9b-a1bb-9914281bb4dd.jpg align="center")

Dalam sesi tersebut, Guru Besar UNPAS Prof. Ali Anwar Yusuf, M.Si. mengulas materi “Cagar Budaya sebagai Fondasi Peradaban: Pelestarian Tradisi sebagai Ikhtiar Menjaga Identitas Keislaman Bangsa.” Ia menyoroti bahwa upaya merawat cagar budaya dan tradisi lokal bukan sekadar menjaga peninggalan fisik masa lalu, melainkan ikhtiar strategis untuk memperkuat jati diri serta fondasi peradaban bangsa agar senantiasa bersinergi harmonis dengan nilai-nilai keislaman.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/31c361e9-b96c-427b-9d27-10e17d0dc97a.jpg align="center")

Sementara itu, praktisi seni Yudi Yuli Krisna, S.Fil.I., S.Kom. memaparkan topik “Seni sebagai Ekspresi Total: Menimbang Ruang Gerak Seniman di Tengah Tuntutan Kepatuhan Syari'at.” Dalam pandangannya, seni merupakan medium ekspresi estetika yang luas dan alamiah, namun ruang kreativitas para seniman muslim hendaknya tetap dibingkai dan diarahkan agar dapat berjalan seiring serta selaras dengan tuntunan syariat Islam.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/cf3277bd-a015-4165-81b5-48071b73bd58.jpg align="center")

Perspektif mendalam juga disampaikan oleh penulis buku Dakwah dan Budaya, Dr. H. Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum. melalui materi “Dari Gagasan Menjadi Budaya: Dakwah sebagai Kreativitas Kultural Menuju Peradaban Islam.” Ia menegaskan bahwa dakwah yang efektif memerlukan pendekatan serta rekayasa kultural yang kreatif, di mana gagasan dan ajaran Islam tidak berhenti sebagai wacana, melainkan diwujudkan dalam praktik budaya nyata untuk membangun peradaban Islam yang kokoh.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/bc2bd608-a26e-4972-a1d0-279e4a620dbd.jpg align="center")

Memasuki Sesi III, moderator bersama para narasumber merumuskan rekomendasi seminar sebagai pemikiran strategis dari hasil seluruh rangkaian diskusi.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/40e1b2be-d968-4be5-bee7-a69c806fc569.jpg align="center")

Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat serta cenderamata kepada para narasumber, dilanjutkan dengan foto bersama, dan ditutup secara resmi dengan diiringi pagelaran seni.

![](https://cdn.hashnode.com/uploads/covers/681095a5c388603fb537a2fa/85d72968-23ad-48f6-9fab-d8f8b01eb217.jpg align="center")

Melalui agenda ini, IAI Persis Garut menegaskan komitmennya dalam menjembatani tradisi keislaman, kebudayaan Sunda, dunia akademik, dan kreativitas dakwah demi memperkaya perspektif masyarakat secara kritis tanpa mengesampingkan nilai-nilai dasar Islam.
