Bicara di Seminar Internasional, Ketua Prodi PBA IAI Persis Garut Bahas Strategi Baru Kurikulum Pembelajaran Bahasa Arab

Malang, 2 Agustus 2025 — Prestasi membanggakan kembali diraih sivitas akademika Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAI Persis) Garut. Hasan Ansori, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAI Persis Garut, tampil sebagai salah satu pemateri dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Pascasarjana Fakultas Sastra Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Negeri Malang (UNM), dimana hasan juga menjadi salah seorang mahasiswanya dengan mngambil kuliah program doktoral (S3) Prodi Pendidikan Bahasa Arab.

Mengusung tema “Pengembangan Program Doktoral Pendidikan Bahasa Arab Berdasarkan Perkembangan Teknologi Digital dan Kemitraan Ilmiyah”, seminar yang diadakan secara daring ini berlangsung pada Jumat (2/8/2025) pukul 13.00–16.30 WIB di Gedung Pascasarjana UM. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Sastra UM, Evy Nurul Laily Zen, M.A., Ph.D., dan dimoderatori oleh Prof. Dr. Hanik Mahliatussikah, Kaprodi Pascasarjana PBA sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Program Pendidikan Bahasa Arab.
Hadir sebagai keynote speaker, Prof. Dr. Ali Abdul Muhsin dari Assiut University, Mesir, serta tiga pembicara undangan dari Yaman, Uni Emirat Arab, dan Malaysia. Hasan Anshori bersama dua pemateri lain mewakili 34 mahasiswa S3 PBA UM.
Dalam paparannya yang disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Arab, Hasan membawakan makalah berjudul: "Pengaruh Perkembangan Penelitian Bahasa Arab Terhadap Desain Kurikulum Pembelajaran" (تطور البحث العلمي في اللغة العربية وأثره على تصميم المناهج الدراسية).
Makalah tersebut mengulas peluang dan tantangan dalam pengajaran bahasa Arab di era global, di antaranya meningkatnya minat belajar bahasa Arab di negara-negara non-Arab seperti Spanyol dan Italia, baik oleh muslim maupun non-muslim. Hasan menegaskan bahwa bahasa Arab kini diakui sebagai salah satu dari enam bahasa resmi PBB, sejajar dengan bahasa Inggris, Mandarin, Rusia, Spanyol, dan Prancis, serta digunakan di 20 negara dengan lebih dari 300 juta penutur.
Meski demikian, ia menyoroti tantangan berupa kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan, termasuk dominasi metode klasik dan kurangnya adaptasi guru terhadap pembelajaran berbasis proyek. Untuk mengatasi hal ini, Hasan menawarkan tiga strategi:
Reorientasi kurikulum berbasis kompetensi dan kebutuhan pasar kerja.
Integrasi aspek budaya, ekonomi, dan pariwisata dalam kurikulum.
Pendekatan fleksibel dan berkelanjutan dalam desain dan evaluasi kurikulum.
Acara yang dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai negara, seperti Suriah, Malaysia, dan lainnya, diharapkan menjadi momentum mempererat jejaring akademik antara IAI Persis Garut, UM, dan kampus-kampus luar negeri lainnya.
“Partisipasi dosen kami di forum internasional seperti ini menjadi langkah strategis untuk memperluas kerja sama akademik, sekaligus memperkenalkan kualitas SDM IAI Persis Garut di kancah global,” ujar perwakilan kampus.






