Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Lulus Tanpa Skripsi, Inilah Kisah Mahasiswa IAI Persis Garut yang Artikelnya Tembus Jurnal Sinta 3

Updated
5 min read
Lulus Tanpa Skripsi, Inilah Kisah Mahasiswa IAI Persis Garut yang Artikelnya Tembus Jurnal Sinta 3

Perjalanan setiap mahasiswa pasti berbeda, namun perjalanan Zulfi Muhammad Ramadhan bisa dibilang penuh dengan keberanian, perjuangan, dan semangat untuk berinovasi. Lulus tanpa skripsi dan menembus jurnal terindeks Sinta 3 adalah pencapaian luar biasa yang tidak banyak mahasiswa raih. Lebih dari sekadar pencapaian akademis, perjalanan Zulfi adalah bukti bahwa dengan ketekunan, keberanian, dan tekad yang kuat, seseorang bisa mengubah tantangan menjadi peluang besar.

Zulfi Muhammad Ramadhan adalah anak kedua dari empat bersaudara yang tumbuh dengan banyak tantangan. Lulus dari SMA, ia gagal masuk perguruan tinggi negeri favoritnya. Namun, Zulfi tidak menyerah begitu saja, ia memilih jalur yang berbeda dengan teman-temannya dari umum, ia melanjutkan kuliah di Institut Agama Islam Persis Garut, sebuah kampus yang berfokus pada ilmu agama, khususnya turats, yang salah satunya adalah kajian kitab kuning (klasik).

Keputusan ini bukan tanpa tantangan. Zulfi berasal dari sekolah umum, yang tentunya memiliki cara belajar yang berbeda dengan kampus yang berorientasi pada kajian agama dan pemahaman kitab. Ia merasa sedikit terpinggirkan dan kesulitan beradaptasi. Tetapi, Zulfi tidak membiarkan perasaan tersebut menghalanginya. Ia mulai melihat ini sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang, mencari jalan untuk berkontribusi di kampus dengan berbagai aktivitas, mulai dari menjadi aktivis dengan menjadi ketua organisasi pers dan literasi mahasiswa, yaitu AKSARA dan pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), hingga aktif menulis berita dan artikel.

Satu momen yang paling berkesan adalah ketika Zulfi menulis artikel Surat Cinta untuk Kampus Bening Tercinta, sebuah tulisan kritis mengenai sistem keamanan kampus setelah kehilangan laptopnya di masjid kampus. Tulisannya itu memberi masukan yang konstruktif, dan lebih dari itu, ia memicu perubahan nyata dalam kebijakan kampus sekarang. Berangkat dari sana, Zulfi mulai memiliki kesadaran kritis dan melihat bahwa menulis artikel ilmiah bisa menjadi jalan untuk menembus dunia akademik yang lebih tinggi. Menurutnya, di kampus masih jarang ada mahasiswa yang lulus tanpa skripsi.

Pada semester tujuh, ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Program Profesi Mahasiswa di Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, di mana mahasiswa diharuskan untuk menulis artikel ilmiah. Ini adalah titik balik yang akan menentukan masa depannya. Dengan semangat untuk menciptakan karya yang tidak hanya bermanfaat untuk dirinya, tetapi juga bagi masyarakat, Zulfi memutuskan untuk menulis artikel yang mengintegrasikan tafsir al-Qur'an dengan teori kritik sosial untuk mengatasi isu ketimpangan kelas sosial yang sangat relevan dengan dinamika perubahan sosial saat ini.

Artikel ini bukan hanya sebuah karya ilmiah, tetapi juga sebuah refleksi atas kesadaran Zulfi terhadap masalah sosial yang ada di sekitarnya. Ia dibimbing oleh dosen-dosen berkompeten seperti Asep Munawar Iqbal, M.Ud. dan Yanyan Nurdin, M.Ag. Mereka memberikan arahan dan dukungan penuh selama proses penulisan artikel. Dengan bantuan dari rekan penulisnya, Rahayu Mutmainnah, Zulfi merasa semakin percaya diri untuk mengirimkan artikelnya ke jurnal terindeks Sinta yang bergengsi.

Pada awal semester delapan, Zulfi mengirimkan artikel ke Jurnal DINIKA UIN Raden Mas Said Surakarta yang terindeks Sinta 2. Di mana Jurnal tersebut sedang mengadakan lomba penulisan artikel yang nantinya akan dipublikasikan, jika lolos seleksi maka akan mendapatkan hadiah uang dan tidak usah membayar biaya pemrosesan artkel. Sayangnya, artikel Zulfi tidak lolos seleksi, walaupun sudah tau bahwa pastinya yang mengikuti lomba tersebut adalah para penulis yang sudah bereputasi dan sekelas profesor. Meski kecewa, Zulfi tidak membiarkan kegagalan ini menghalangi semangatnya. Ia mengambilnya sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki artikelnya. Alih-alih mengirimkan artikel ke jurnal dengan sinta 4 atau 5 yang lebih mudah, justru Zulfi mengirimkan artikel ke Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang terindeks Sinta 3, jurnal yang sama-sama bergengsi dengan seleksi yang sangat ketat.

Proses seleksi dan revisi yang ketat menguji ketekunan dan kesabaran Zulfi. Setelah melewati proses peer-review oleh reviewer yang ahli di bidangnya dan melakukan revisi, akhirnya, artikelnya diterima dan dipublikasikan dengan judul “Challenging Hegemony through a Quranic and Gramscian Perspective in the Tafsir of Sayyid Qutb on Social Class.” Zulfi tidak hanya berhasil menembus jurnal Sinta 3, tetapi juga mencapai tujuannya untuk lulus tanpa harus menulis skripsi, sebuah prestasi yang sangat jarang terjadi di kalangan mahasiswa. Di saat teman-temannya masih sibuk menyelesaikan skripsi, Zulfi sudah menyelesaikan langkah besar dalam pendidikannya.

Namun, keberhasilan ini tidak datang begitu saja. Ketika Zulfi mengetahui bahwa belum ada regulasi yang jelas tentang artikel jurnal sebagai pengganti skripsi, ia sempat merasa cemas. Banyak yang menyarankan membuat skripsi walaupun waktunya dua minggu lagi menuju sidang skripsi. Namun, dengan dukungan penuh dari dosen pembimbing dan Kaprodi, pihak kampus akhirnya mengeluarkan regulasi yang memungkinkan artikel jurnal sebagai pengganti skripsi. Zulfi menjalani sidang artikel yang dipimpin langsung oleh Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin, dan dengan bangga dinyatakan lulus.

Pencapaian Zulfi tidak berhenti begitu saja. Pencapaiannya dalam menulis artikel jurnal membawa peluang baru dalam hidupnya. Setelah lulus, ia dipercaya untuk menjadi editor di beberapa jurnal kampus, seperti Qur'anuna (jurnal Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir) dan Irsyada (jurnal Prodi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam). Selain itu, ia juga mengelola Madrasah Qur'an sebagai pengajar dan terlibat dalam komunitas Qur'anic Movement, yaitu Qur’anic Spirit yang bertujuan untuk menyebarkan pemahaman al-Qur'an kepada masyarakat dengan cara yang relevan dan kontekstual.

Tak hanya itu, Zulfi merambah ke dunia bisnis dengan membuka brand Korezat yang bergerak di bidang FnB (Cemilan Korezat) dan fashion (Korezat Wear). Sebagai seorang pengusaha muda, Zulfi tidak hanya fokus pada keuntungan, tetapi juga berusaha memberikan dampak positif bagi masyarakat. Bisnisnya berkembang dengan tujuan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Menurut Zulfi, Jika ingin mencapai keberhasilan maka ada harga yang harus dibayar baik itu waktu, tenaga, pikiran maupun materi. Dari kisah inspiratifnya, banyak pembelajaran yang didapatkan, bukan hanya tentang keberhasilan akademis, tetapi juga tentang bagaimana menghadapi kegagalan, kesepian, tantangan, dan ketidakpastian. Zulfi memberikan pesan bahwa setiap langkah yang kita ambil—baik itu berhasil maupun gagal—adalah bagian dari proses yang tak ternilai harganya. Ketekunan dan kesabaran disertai doa yang kuat, merupakan kunci utama yang mengantarkannya pada keberhasilan

Lebih dari itu, Zulfi juga mengajarkan kita untuk tidak hanya berpikir tentang diri sendiri, tetapi juga memberikan dampak positif bagi orang lain. Ia berpesan kepada para mahasiswa agar jangan ragu dalam memilih jalan kebaikan, selama kita yakin dengan jalan yang kita pilih. Diusahakan selangkah lebih maju dari orang lain, lebih baik berjuang dari awal dari pada menyesal di akhir. Dengan keberhasilan yang ia raih, Zulfi tidak hanya menciptakan perubahan untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberi kontribusi besar bagi dunia akademik, pendidikan, dan masyarakat.

More from this blog

I

IAI Persis Garut - Berita dan Agenda

77 posts

Institut Agama Islam PERSIS Garut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik, profesional dalam kelompok disiplin agama, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.