Dari Peternakan Ayam, Izutsu, Hingga Tafsir Persis, Ragam Judul Sidang Skripsi 2 Prodi IAT IAI Persis Garut

Garut, 25 Juli 2025. Prodi Ilmu Al Quran & Tafsir, kembali menggelar sidang skripsi gelombang kedua untuk 24 mahasiswa. Sidang ini menjadi sidang yang terakhir yang diselenggarakan oleh Prodi Ilmu AL Quran & Tafsir untuk tahun akademik 2024-2025. Dalam kegiatan ini, turut hadir ketua prodi Ilmu Al Quran & Tafsir & Dekan Fakultas Ushuluddin, dan seluruh dosen penguji.
Dalam sambutannya ketua Prodi Ilmu Al Quran & Tafsir, Yan yan Nurdin, M.Ag menyampaikan terkait perjalanan Prodi dalam mengawal mahasiswa semester 8, agar bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Alhamdulillah sesuai dengan target, hamper seluruh mahasiswa IAT angkatan ke 10, mengikuti sidang skripsi. Selain itu, guna meningkatkan kualitas Prodi yaitu dengan menerbitkan Jurnal, pun itu juga sudah direalisasikan di minggu yang kemarin. Prodi telah memiliki rumah jurnal untuk penerbitan artikel jurnal yaitu Qur’anuna. Sejumlah dosen & mahasiswa telah berkontribusi melalui artikelnya diterbitkan dijurnal tersebut, yang merupakan hasil dari penelitian antara dosen dan mahasiswa melalui kegiatan PPM (Praktik Profesi Mahasiswa) yang bertemakan “Al-Quran & Egalitarianitas”.
Sedangkan dalam sambutannya yang kedua sekaligus membuka kegiatan yaitu, Dekan Fakultas Ushuluddin Dr. H. Gun gun Abdul Basith, M.Ag, menyampaikan bahwa sidang skripsi adalah sebuah keniscayaan yang harus dilalui dan dilewati oleh seluruh mahasiswa. Guna meraih gelar sarjana. Skripsi menjadi bukti akademik yang akan memperlihatkan kemampuan mahasiswa dalam mengolah pikir dan menyelesaikan problem khususnya di bidang keilmuan al Quran & Tafsir. Beliau mengapresiasi dan berharap agar sidang skripsi ini bisa berjalan lancer dan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Beliau pun menekankan agar selesai sidang untuk segera melakukan revisi dan mengkonversi skrispi tersebut menjadi sebuah artikel jurnal.
Berkaitan dengan judul skripsi yang disidangkan pada hari tersebut tercatat beberapa mahasiswa masih ada ketertarikan terhadap tema semantic semiotic & hermenitik seperti Makna Kata Tawakal Dalam Al Quran (Kajian Semantik Toshihiko Izutsu), Kekuasaan Dalam Al Quran (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure Terhadap Kisah Nabi Sulaiman), Analisis Semiotika Roland Barthers pada ayat-ayat Syifa dalam Al Quran, Analisis Semantik Nafs Amarah dan Penafsirannya menurut Syekh Muhammad Nawawi Al Jawi, Analisis Kata Al Fajr, Makna Ikhlas Dalam Al Quran dan Nilai-Nilai Ulul Ilmi Dalam QS Ali Imran ayat 18 dalam tafsir sayyid Qutb Perspektif Hermenetika Gadamer, Judul judul di atas menggunakan kajian semantik, semiotic dan hermeneutik dalam menganalis tema-tema yang terdapat dalam Al –Quran.
Selain itu juga ada kajian Tafsir Muqarran yang membandingkan antara satu kitab tafisr tertentu dengan kitab tafsir lainnya. Seperti tentang kekerasan sexsual terhadap perempuan QS. Annur ayat 33 ditinjau dalam tafsir Al Munir & Al Mishbah, tentang tafsir ayat gadai di tafsir Al-Qurthubi dan Al-Maraghi, Tafsir Al-Furqan & Tafsir Al Azhar tentang ayat Riba & Bunga Bank dalam Al Quran serta Peran Perempuan Dalam Al Quran menurut Tafsir Al-Baidhawi dan Tafsir Anwar At-Tanzil wa Asrar At Ta’wil. Ada juga yang membahas tafsir Persis yaitu Metodologi Penafsiran KH. M. Rahmat Najieb Dalam Tafsir Annur, Ada juga yang menelaah tentang Implikasi Qiraah Syadzah Tethadap Penafsiran Ayat Nikah Mut’ah yang dikaji dalam Tafsir Al Mizan, Tafsir Bahrul Muhith dan Tafsir Al-Kasyaf. Bahkan yang tidak kalah menarik yaitu ada yang mengkaji tentang tafsir gender yaitu Analisis Qawaid Tafsir Terhadap Interpretasi Amina Wadud Tentang Kesetaraan Gender Dalam Hak waris. Dan ada juga kajian Living Quran yaitu tentang Tradisi Pemutaran Murratal Al Quran di Peternakan Ayam Patalor Galumpit Farm. Dan masih banyak lagi judul judul lainnya yang tak kalah menarik, yang disajikan oleh Mahasiswa Prodi Ilmu Al Quran & Tafsir.
Keseluruhan judul judul skripsi di atas merupakan refleksi atas kesadaran baru generasi muda tafsir dalam membaca ulang teks suci dengan keberanian metodologis dan kepedulian kontekstual. Dari semiotika, gender, hingga tafsir klasik, judul-judul skripsi ini menjadi bukti bahwa studi tafsir di IAI Persis Garut tidak mati gaya, justru terus mencari bentuk baru untuk menjawab tantangan zaman.






